GRESIK, Media Suara Hindunesia — Menjadi pemimpin spiritual sekaligus wakil rakyat di wilayah majemuk yang lekat dengan julukan Kota Santri menuntut keteladanan, ketegasan prinsip, dan keluwesan berdiplomasi. Sosok yang merepresentasikan nilai-nilai tersebut terefleksi nyata pada diri Kusno, atau yang akrab disapa Cak Kusno. Sebagai figur sentral pembinaan umat Hindu di Kabupaten Gresik, langkah pengabdiannya menjadi bukti tegaknya keseimbangan antara pelaksanaan kewajiban spiritual (Dharma Agama) dan pengabdian kebangsaan (Dharma Negara).
Menyeimbangkan Dharma Agama dan Dharma Negara
Kiprah Cak Kusno bukanlah cerita baru bagi umat Hindu di wilayah Jawa Timur. Beliau telah mengemban amanah krusial sebagai Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Gresik sejak tahun 2010, berdiri di garda terdepan untuk memastikan komunitas Hindu yang tersebar di wilayah pesisir industri ini tetap kokoh dalam sradha dan bhakti.
Penyelamatan Pura Medang Kamulan dan Pengawalan Tradisi Leluhur
Di ranah pembinaan keagamaan, kepemimpinan Cak Kusno dikenal taktis dalam mengurai persoalan struktural dan menjaga legalitas aset tempat ibadah. Salah satu warisan kontribusi nyatanya adalah saat beliau turun tangan secara langsung untuk menyelamatkan serta menata ulang kepengurusan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan yang berlokasi di Desa Mondoluku. Berkat intervensi dan pendampingan berkelanjutan dari PHDI Gresik, pura yang menyimpan nilai historis serta spiritual tinggi tersebut kini dapat kembali dikelola secara tertib, aman, dan representatif bagi kegiatan persembahyangan umat.
Selain penyelamatan aset, Cak Kusno amat peduli pada keberlangsungan tradisi leluhur yang melibatkan partisipasi komunal. Beliau secara konsisten mengawal dan memastikan kelancaran tradisi perayaan hari-hari suci, khususnya pelaksanaan pawai Ogoh-ogoh menyambut Hari Suci Nyepi di Dusun Bongso Wetan dan sekitarnya. Tradisi ini dipertahankan tidak hanya sebagai ritus sakral Tawur Kesanga, melainkan juga sebagai wadah gotong royong yang merekatkan persaudaraan antarwarga desa.
Diplomasi Lintas Iman dan Sinergi Bersama GUSDURian
Mengawal komunitas Hindu di tengah heterogenitas Kabupaten Gresik memerlukan pendekatan sosiologis yang matang dan inklusif. Cak Kusno menyadari bahwa harmoni tidak jatuh dari langit, melainkan harus dirawat melalui komunikasi lintas batas. Oleh karena itu, beliau secara proaktif membangun sinergi erat dengan berbagai elemen masyarakat sipil pencinta perdamaian, salah satunya dengan jaringan GUSDURian Gresik, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan para tokoh pesantren setempat.
Melalui pendekatan dialogis bersama tokoh-tokoh agama lain, potensi kesalahpahaman senantiasa berhasil dimitigasi sejak dini. Sikap saling menghormati ini terwujud secara organik dalam kehidupan warga, menjadikan wilayah Menganti dan sekitarnya sebagai salah satu episentrum kerukunan umat beragama yang patut dicontoh di tingkat nasional.

Mengetuk Pintu Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI
Kesenjangan fasilitas pendidikan keagamaan di kawasan minoritas menjadi perhatian yang tidak pernah lepas dari radar Cak Kusno. Memahami bahwa pendidikan adalah benteng utama pelestarian agama, beliau mengambil langkah tegas dengan memanfaatkan jalur kelembagaan dan komunikasi langsung dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Hindu Kementerian Agama RI.
Tanpa lelah, Cak Kusno menyuarakan dan memperjuangkan pengadaan formasi resmi guru agama Hindu untuk ditempatkan di sekolah-sekolah negeri di seluruh wilayah Kabupaten Gresik. Advokasi yang tak kenal menyerah tersebut akhirnya membuahkan hasil nyata. Kini, tenaga pendidik agama Hindu definitif telah tersedia dari tingkat SD hingga SMP Negeri di Gresik, memastikan anak-anak Hindu mendapatkan hak pengajaran agama secara formal dan utuh di bangku sekolah.
Dengan rekam jejak panjang di tubuh PHDI, Cak Kusno membuktikan bahwa pelayanan tanpa pamrih (ngayah) mampu merajut keharmonisan sosial yang teduh, sembari tetap menjaga marwah dan martabat umat Hindu Nusantara.
FAQ – Pertanyaan Umum
Cak Kusno (Kusno) adalah tokoh agama dan pejabat publik yang memimpin Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Gresik sejak tahun 2010 hingga saat ini.
Salah satu kontribusi signifikannya adalah menyelamatkan dan menata ulang kepengurusan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan di Desa Mondoluku, sehingga pura bersejarah tersebut kembali terkelola secara tertib dan representatif untuk peribadatan umat.
Cak Kusno aktif melakukan diplomasi lintas iman dengan berkolaborasi bersama jaringan GUSDURian Gresik, FKUB, dan tokoh pesantren. Sinergi ini sukses menjaga keharmonisan dan kedamaian sosial, khususnya di wilayah Menganti dan sekitarnya.
Melalui advokasi intensif kepada Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, beliau berhasil memperjuangkan pengadaan formasi resmi guru agama Hindu untuk mengajar anak-anak Hindu di sekolah-sekolah negeri di Kabupaten Gresik.